Cerita

Hmmm…
kepekaan hati, pendisiplinan diri, tersimpan dalam sebuah kotak pandora pada kedalaman jiwa ini..
hmmm… mengapa aku begitu cuek? padahal aku ingin hidup mengabdi pada dunia? mengapa aku begitu hina? padahal aku ingin berbuat mulia?

dan.. mengapa aku begitu iri pada orang yang bahagia diluar sana? padahal orang lainpun juga iri kepada diriku ini yang pandai ber-akting bahagia?

Ketika bibir tak lagi sanggup berkata-kata, ketika air mata tak lagi mampu lampiaskan rasa, ketika semua menjadi bias pantulan air sbening kaca & hati ini dibungkam oleh filosofi logika semu..

hmmmmm… jawaban jelas makin terlihat kabur..
Aku ingin sekali tertidur, dengan tidak terbangun, karena kuingin menyelami roh-ku ini..
Melihat pada sisi lain..
Kontekstualitas..

Sebuah intisari

Aku berada disini, disebuah warung roti canai, sambil menghirup teh manisku.. Mataku menerawang, tertuju kepada sang pembuat roti canai & martabak India, tangan-tangannya sungguh lincah meracik roti canai pesananku, hmmm dan muncul pikiran iseng dibenakku, apakah dia ndak bosan dengan segala kegiatan membuat roti yang melelahkan itu, setiap hari?

Dari pojok warung tempatku duduk, musik kudengar mengalun lembut.. kulihat sekitaranku, riuh dengan beragam jenis orang, berbagai suku bangsa, berlainan negara, duduk bercengkerama menikmati hidangan dari warung roti canai ini..

Sungguh luar biasa pemandangan yang kulihat.. Suatu pemandangan yang mencerminkan betapa kaya-nya hidupku ini oleh beragam pengalaman, yang kudapat dari hasil menjelajah, memperkaya hati, membuka diri untuk wawasan seluas-luas-nya terhadap dunia..

Sering kuberpikir.. bermimpi, bagaimana bisa berguna bagi bumi..

Namun, dari warung roti canai ini, aku belajar untuk melihat pada suatu nilai kesederhanaan hidup..

Modern Courtesan

I just wanna share a little bit about my own point of view seeing courtesan. Okay actually definition of courtesan (so far that I knew) is someone that accompany a man in a matter of sexual & non sexual aspects. But what I wanna emphasize here is the ‘modern’ courtesan in my understanding, is a courtesan that uses brain, a man will go & find her to have a chitchat, to have someone to talk to, to discuss things, stuff that needs thinking, which is (maybe) their own wife at home wouldn’t or not always understand those issues.
These men aren’t always looking for sexual pleasure from this ‘brainy’ partner, they simply need someone to talk to, and for me, I wonder, whether this version of courtesan could be called as ‘modern’, a new revolutionary form of ‘call girl’ but in a slight positive way. That you no longer say they are cheapskate, or let me say ‘whore’ like that. With no sexual encounters involved. You just simply do usual hangout like most bestfriends do. Sharing & talking, but not much romance.
 
I might say that most of the time or often wife they marry can not understand them, either because their mindset is different or they don’t have the same pattern way of thinking, that’s why they’re lurking for possibilities of woman out there who can captured their heart with her smarty, easy to talk with & fun in positive way, less or more, resulted that his life is divided between his wife & his courtesan out there, it doesn’t mean, bodily sex has to always involved, because you could even have sex in your spirit, by using your brain, which made your affair is actually all inside your mind. Like I would say, original sin.. Is it?
 
Will give one example: Japanese courtesan aka Geisha.. This community group basically & originally didn’t sell their body for cheap sex, its just, they are more than that, these courtesan has been trained since little to do so many things, being multitasker, and I’m so impressed by their life skills especially in performing arts (you know I admire performing arts sooo much)..
They can dance, they can sing, they do theater as well as playing musical instruments, painting & such.. Moreover they can cook, they can make Japanese tea ceremony, they are well mannered & well dressed, they are stunningly adorable, they do everything in a classy way, elegantly charming.. Plus they have this communication skill which add more perfectness to their expensive outward look.. And for this “high” class geishas, sex is not something that becoming main point/purpose for men..
These “businessmen & high position officials men” demands smart woman, classy, well behaved & communicative.
They can entertain but also can be someone to talk to, any topic from serious to humorous, with less seducive, more romantic, smart, elegant, classy, cute, well dressed & charming.. Picky & full of wisdom, a feminist who can manage her life amazingly.. Salute!!!
 
And of course I had to admit that too many of past & present geisha who use the name “geisha” but actually whore, selling themselves on the streets or brothels like that.
I am a feminist who against trafficking, in a way women trade their beauty & their body as main assets to gain profits.. Nevertheless, I’m quite disagree that yeah a bunch of people might have tendencies on wrong perceptions about geishas or courtesan because they could not see from different perspective/another sides.. They just saw the big picture without doing further knowledge about what’s the real definition of geisha is..
 
So I dare say that somehow being modern geisha is my own version of being “free thinker” that is quite liberally democratic in seeing present day “issues”, not merely accepting nor against it, but slightly compromising it.. A bit..

Kontemplasi Hari Ini..

Disaat melawan arus tatanan hidup masyarakat “normal” menjadi suatu dogma.. Disaat moral sudah tiada punya standar, ketika etika mayoritas mengandung unsur pemaksaan kehendak.. Disaat media massa sudah kehilangan objektivitas.. Disaat cinta menjadi absurd & dimurahkan harga-nya.. Disaat makin banyak orang mencari kebenaran & pembenaran, entah melalui apakah? Atau bagaimana suatu “kebenaran” dianggap benar?.. Ketika imaji & realita bercampur menjadi satu, mampukan kau menahan-nya? Mampukah engkau mengendalikan-nya? Atau masih mampukah engkau menangis di ranah kepalsuan hidupmu itu? Atau akankah kau malah memilih mati?
 
–Hidup untuk menyambut mati, mati untuk menghidupi nyawa..
 ”menikmati idealisme dalam ranah kontemplasi & individualisme.”
Segenap jiwaku membeku.. Ego-ku memberontak.. Bukan soal kemampuan berandai-andai, bukan pula memberi diri kepada interpretasi asal-asalan.. Namun aku hanya ingin.. berhenti berkaca.. karena cermin itu terlalu gamblang.. merefleksikan tabir.. kemunafikanku.. –Status quo.
Teman, siapapun orang itu, sepenting apapun kehadiran dia, seberapa sering kita bersama-nya, tetap satu per satu akan meninggalkan kita entah dengan sengaja maupun tidak, lalu apa yang bisa kita lakukan? Tidak ada..
Teman hidup, apakah ada? Seseorang yang bisa masuk ke jiwa & raga? Seseorang yang dengannya bisa merasakan berarti-nya bisa menapakkan kaki di tanah? Seseorang yang mengalihkan dunia? Seseorang yang otomatis mematikan kita?
“Jika nimbole, atau jika boleh kita ingin ngana disini pa kita.. Semu..”
Makin hari terkadang makin suka menyendiri saja.. Mendekam dalam ruang pengasingan diri.. Tanpa bermaksud mengasihani diri, makin tinggi intensitas meng-observasi manusia2, betapa tambah aneh-aneh orang-orang punya standar nilai, termasuk diriku ini. Hmm betapa baiknya teman, mereka hanya bisa diajak bermain di siang hari, hanya ada dikala senang, cerah, & menyenangkan.. Pada akhirnya kita smua diharuskan mengandalkan hanya kepada diri sendiri..

Masyarakat gemar bergosip, tanpa menyadari mereka menghancurkan diri sendiri, pada akhirnya, individualisme berjaya.. Makin banyak kubertemu orang, bersua dengan teman yang berbeda-beda.. Makin banyak pengalaman kudapati, tiada kucari, banyak pandangan & nilai hidup berbeda-beda kuselami..

Kutemukan sebuah konklusi, dan betapa oh betapa.. Kesendirian merupakan kutukan, tiada dapat mempercayai teman, manusia berubah-ubah. Karena pada akhirnya masing-masing ditakdirkan menempuh jalan hidup sendiri-sendiri.. Dengan asumsi suatu saat bisa bertemu di persimpangan jalan yang sama..

Sepertinya ditengah euforia kegilaanku ini, ide hidup dengan diri sendiri sangatlah menyenangkan, karena aku bisa membuat keputusan untuk diri & hidupku sendiri tanpa perlu approval (persetujuan) dari siapapun atau bahkan berusaha untuk menyenangkan siapapun. Ditambah tidak perlu untuk mencari tahu apakah standar nilai hidupku bertentangan dengan standar hidup orang lain. Contoh: aku ingin menikah besok saja, dengan tanpa pesta pora kawin, tanpa kehadiran semu orang-orang.. Cukup dengan kehadiran sebuah kertas berbau hukum sah-nya catatan sipil, hanya untuk memuaskan hasrat pembenaran diri..

Dan inilah hasil kontemplasi hari ini, dimana teman-teman berdatangan silih berganti, menuai cerah di tengah kegelapan malam, namun aku memilih malam, karena gelap membuatku tenang..

“Dengan berhenti berpikir, karena berpikir melukakan hati, membuatku sakit & berakhir mati..”

Not at the last resort..

You should understand that all the risks we both took of being in freakin long distance relationship will lead us into countless challenge.. For instance, I might say things that you’ll consider it wrong to you & insulted you somehow becoz: 1. I don’t know your current feelings & bloody emotions that time. 2. You are at the state of being so ‘sensitive’ towards stuff that I myself don’t even know. 3. Increased density of sensitivity may occur in distance we both have, especially when we separated by the sea, different island & world zone, it feels like you want to kill someone. The result is misunderstanding, and heaps of it can be bloody dangerous, so be careful, try to control emotions & rage (if any) coz it can trigger more problems, and believe me honey, you don’t want that happens here huh? Just take it easy.. We both know no one wants to get hurt, am I right? Think from many sides..

FRIEND: Very true. But, before you decide to jump headfirst into long distance relationships, you should first agree on an end goal with your partner. A specific time, be it six months or a year, when the separation is going to end. You can reunite…, you can move home, you can follow or you can call it quits. There has to be an agreed upon goal to look forward to when you first embark upon long distance relationships. Otherwise, you may end up stringing along the status quo indefinitely, which breeds a particularly robust strain of frustration. Be realistic in your assessment of this relationship timetable. Make sure to leave enough time to accomplish the goals that forced the separation in the first place. Trying to rush through an experience, even for a relationship, is a good way to build up unhealthy levels of stress.
ME: Its true, another thing I’m afraid of is mounted misunderstanding, causing you to break up, its no freakin deal but also no idea why, right?
FRIEND:  Right. Misunderstanding is a very big problem. Mainly because of distress, jealousy and sometimes unfaithfulness.
ME:  Sigh, this topic alone could be an endless discussions..
FRIEND:  You are right dear, An endless discussions…

Sebuah noktah hitam..

Gerimis, gelapnya langit, dingin menusuk, atmosfir melankolis sungguh terasa, aku terpaku, terpenjara dalam duniaku sendiri, terduduk di muka jendela basar itu, termangu ke arah lautan.. Ku mendapati hitam itu ada terpatri di sanubariku.. Sungguh, ku memang ingin meraih pintu & membebaskan diriku, untuk berlari ke tengah hujan deras, bataria memanggil namamu sekencang-kencangnya, ke hadapanmu, meraihmu, memelukmu erat, menatap matamu & berkata ‘pernahkah atau apakah aku benar tulus kepadamu? Engkau bukanlah bebanku, engkau berharga, engkau seseorang buatku, engkau nyawa hidupku’

kugigit sedikit bibirku, kudekatkan pipiku ke pipimu, disana dibawah hujan, mencium-mu.

Sesaat saja dalam anganku, kuingin.. Mutiara (keabadian itu)..

Sepertinya Tuhan sedang menghukumku..

Mari mati & bertanya, Tuhan, mengapa?

 ‎..Hanya bisa berjaga, dalam mimpi..

SEBUT SAYA GILA..

“Argh! Hujan tertawa sarkastik padaku, sekilas berkata “Singkirkan semua imaji kosong.. Buang semua kekhawatiran ndak berdasar itu”. Hahh! Jikalau aku adalah khayalan yang tak untuk menjadi nyata.. Oleh sebab kesendirian sudah menjadi makanan-ku sehari-hari & suatu saat, kita kan mengetahui mengapa langit itu biru..”

Tenggelam dalam rasa, di ruangan hampa udara, stengah mati bernafas.. Hampir mati.. mencari pecahan bagian diriku yang.. tak terhindarkan, telah pergi.. menyatu dengan dirimu.. Kujaga jantungku bertahan tetap berdetak.. Taruhkan harapan di hati..

Jalan terasa panjang, tiada terduga, terasa dingin, menanti apa yang berada di akhir setapak.. takut? spertinya tidak..

khawatir? tersirat sedikit.. Bukankah hidup adalah soal menghadapi ketakutan diri? benarkah pembenaran diri adalah akibat bahwa diri sendiri adalah musuh terbesar manusia yang bersangkutan?

Kosong, kosong, dan sepi.. kunikmati idealisme dalam ranah kontemplasi & individualisme..

Dengar, dengarlah.. Suara dari kedalaman hati..

Lihat, lihatlah.. Malam berbisik, angin lembut berhembus, pohon-pohon berdesir, membisik-kan ode cinta romansisme..

Dibawah ribuan butiran permata langit berbintang, tubuh membujur kaku, dan aku-pun datang menyambut roh-ku.. Bersiap bertemu roh-mu, tuk pergi ke alam dimana torang boleh lepas & bebas bercinta..

Mari memadu torang pe gairah kegilaan..

Dalam malam yang tengah menjadi satu-satu-nya saksi for torang pe bae..

Deng jang hiraukan apa kata orang suka mo veto pa torang.. Yang cuma boleh mo ambe torang pe cita-cita idealis..

Mari baku baku seno.. Siapkan mental, menghadapi hujatan di masa datang..

Kalu hidop adalah soal menantang resiko.. Mari.. Baku baku farek..

Dan kurang tunggu respon samua orang yang tak henti-henti-nya menanti kisah baru yang akan torang bawakan..

 

One of my kind..

“Untuk orang ‘normal’ saja.. Cintailah anganmu, cintailah imajimu, cintailah asa-mu, selama itu masih bisa kau raih & kau nikmati, supaya ketika kau terbangun, kau akan berkata ‘oh so bertambah pengalaman hidupku ini’ Hidupku sureal, aneh, hidupku liar, hidupku fana, besok mati juga tak apa, otak-ku penuh obsesi, otak-ku penuh ambisi, otak-ku penuh nafsu, otak-ku penuh cinta.. Bercinta-lah dengan imaji-mu, dapatkanlah keabadian cinta-mu, hanya dalam mimpi-mu, kita semua adalah pembohong besar, yang bercinta lewat lintas dimensi.. Kenyataan itu mungkin tak akan pernah ada, karena semua-nya adalah skandal imaji pikiran kita. Tak usahlah bertemu, lanjutkan bermimpi khayalan tingkat tinggi. Hidupi-lah CANDU-mu itu.. Karena hidup adalah panggung sandiwara, kita semua adalah aktor yang hebat & munafik, pantas kah kau bertemu denganku? Karena kali ini Tuhan lah sutradara candu torang. Persetang dengan kita berdua.. Berdusta pun aku sanggup, karena aku adalah’ penyair gadungan’ hidupilah aku, wahai candu.
Desahan angin di malam hari, kuberjalan sendiri, jalanan itu kosong & gelap, pohon-pohon rindang menemani perjalananku, dingin, sepi.. Ingin rasa-nya kurangkul bulan, ingin ku mencoba, rasa manis ciumanmu, hangatnya pelukanmu, inikah yang baru disebut drama? Kita bertemu dirimba imaji tingkat tinggi. Disela-sela ketidakberdayaanku, aku menangis, tapi apakah guna sedu sedan itu? Kuberharap, seseorang berada disana, ujung jalan terasa sangat panjang sekali, namun kutetap berharap, meskipun dunia jatuh, aku ingin, walau hanya sekali.. Mendesah, dalam pelukanmu.. Merangkul malam, dalam permainan cinta, oh how I want you, the sweetness of love making, ferocious & tender.. I don’t care if the world should fall down.. I want to taste the very you..”

“Ironi.. Maukah kau bertemu denganku? Cinta.. Maukah kau mengisi hidupku? Berjalan ke tampa tidor..”

This is when I wanna pour my silliness, I’m way too ignorant, I’m not a good friend enough, not even a good girlfriend, and I don’t know if I can make it to be good wife either. What should I do then? I feel now like someone who’s about to cross the street of life full of turns & detours, I’m not trying to justify myself nor making up stuff, but this is what I called ‘I am what I am’, I was born this way, who won’t care any single of people’s judgment towards me, becoz I’m unique in my own way, hey world stop passing judgment! You better mind your own business, that way we can live in peace, I don’t care if I am truly different from you, I never try to change you to be like me that’s why stop correcting stuff that you’re not suppose to mind for, especially its none of yours to think of. I’m studying sociology as well, read peoples tendency about building their own version of morale & values then considered who aren’t the same as different kind or mutating and started to either exile “the normal” or try to change “the normal” with additional “passing the judgment” stuff. Fyi, I’m freaking proud to be different & unique to be created this way. Whoa yeah another thing, why I always have long distance relationship? The reason is unknown. I hate this method, but I need to hold on, I need to survive, I felt like I’m going crazy, need to hang on more, but God is holding my hand.. Even when my ego said I should give up on this “normal” relationship, and I don’t know that this story might being told again through a scenario, a sketch, a drama. Back to zero.. “You’ve got phone call from Setlight, hahahaa what? A light? Could he light my freakin life? Superrr..” What kind of more rhetorical words should burst out? You’re so naïve my man.. Hey love is not something so complicated, deny it then you’ll end up more obsessed cause of it. Till dreams meet us again.. One of my kind..

When you start to shut up? All romanticism is nothing than just a big question mark.. You masquerade behind your mask, stop all those cherrie errie, wait a second, hear it, the sound of beach breaking waves, shells clammering, tells you a tale of your pride..
Cold bloody rain pours, shivering wind blowing in uncertain direction, as I wait for you here in the middle of the rain, standing there in the corner, wondering… All of us are men camouflage behind the mask.. Torang memang aktor yang hebat mar kurang tunggu waktu saatnya torang buka torang pe tabir kemunafikan..
After all broken stones that were thrown, which try to push the past away still & waiting for the life to change, try for the sake of our PRIDE.. Learning to barely feel the pain, thicker the skin the less it straint.. Bones have to grow.. Break it !!! Weakness shows, selfish soul that never change..

“Teman: Hey bangun, kera sakti so lewat Saya: hoaaammm oh ok.  HAH? maksud? Teman: iyeah, pacarmu itu datang Saya: oh, ya sudah, lalu? Teman: dia so tunggu pa ngana di muka pintu. Saya: pintu siapa? Teman: pintu kamarmu bodoks! Saya: suruh pergi kwa, saya malas ketemu dia Teman: elelelee tuan putri, pe banya gaya, ngomong sandiri sana (berjalan kluar kamar) Saya: hemmmmm ‘melanjutkan tidur”